Daftar Isi
ToggleBekerja (Beramal) Itu Bermanfaat – Kemalasan itu Berbahaya
Identitas
Penulis : Abu Ahmad Ricki al Malanjiy
Penulisan Pertama : 21 Maret 2026
Revisi :
22 Maret 2026: (1) Penambahan Kemalasan itu Berbahaya; (2) Perubahan dalil al Qur’an; (3) Perubahan kisah islam; (3) Penambahan daftar pustaka; (4) Penyesuaian soal-soal.
Modul Pembelajaran : Modul 7.1.1
Kitab Rujuan Utama : Al Muntakhobat fil Mahfuzhot – Karya Ustadz Umar Abdul Jabbar
Keterangan : Materi ini diajarkan pada jenjang kelas 7 semester 1 di SMPTA Imam Syafi’i Malang, diulang kembali pada kelas 10 Takhoshshush KurmaQu al Malanji
Mahfuzhot
Mahfuzhot atau kata-kata ringkas hikmah yang kita hafalkan pada kali ini adalah:
الْعَمَلُ نَافِعٌ – الْكَسَلُ مُضِرٌّ
Bekerja (Beramal) adalah sesuatu yang bermanfaat – Kemalasan itu adalah sesuatu yang membahayakan
Makna
Sekarang mari kita mempelajari analisis sederhana menggunakan ilmu nahwu dan shorof yang telah atau akan anda pelajari sebagaimana tujuan pembelajaran kedua.
Analisis Kata (الْعَمَلُ)
Kata (الْعَمَلُ) adalah bentuk mashdar dari kata (عَمِلَ – يَعْمَلُ) yang bermakna membuat, berbuat; mengerjakan, melakukan; bekerja; bertindak. Tashrif dari kata (عَمِلَ – يَعْمَلُ) adalah
عَمِلَ – يَعْمَلُ – عَمَلًا – فَهُوَ عَامِلٌ – وَذَاكَ مَعْمُولٌ – اِعْمَلْ – لَاتَعْمَلْ – مَعْمَلٌ2 – (-)
Jadi arti kata (الْعَمَلُ) adalah pekerjaan, perbuatan, tindakan atau perlakuan. Sedangkan i’rabnya adalah mubtada’, marfu’ dan tanda rofa’nya adalah dhommah zhohiroh
Analisis Kata (نَافِعٌ)
Kata (نَافِعٌ) adalah bentuk isim fa’il dari kata (نَفَعَ – يَنْفَعُ) yang bermakna memberi manfaat,berfaidah, berguna. Tashrif kata ini adalah
نَفَعَ – يَنْفَعُ – نَفْعًا وَمَنْفَعًا– فَهُوَ نَافِعٌ ونَفَّاعٌ– وَذَاكَ مَنْفُوعٌ – اِنْفَعْ – لَاتَنْفَعْ – مَنْفَعٌ2 – مِنْفَاعٌ
Jadi arti kata (نَافِعٌ) adalah sesuatu yang memberikan manfaat, memberi faedah. I’rabnya adalah khobarul mubtada’, marfu’ dan tanda rofa’nya adalah dhommah zhohiroh.
Kesimpulan Makna (الْعَمَلُ نَافِعٌ)
Jadi makna lengkap (الْعَمَلُ نَافِعٌ) adalah : Bekerja atau beramal itu adalah sesuatu yang mampu memberikan manfaat.
Analisis Kata (الْكَسَلُ)
Kata (الْكَسَلُ) adalah bentuk mashdar dari kata (كَسِلَ – يَكْسَلُ) yang bermakna malas, menganggur, lesu, lamban, bermalas-malasan, mengendor. Tashrif dari kata (كَسِلَ – يَكْسَلُ) adalah
كسِلَ – يَكسَل – كَسَلاً وَمَكْسَلًا – فهو كَسِل وكَسْلانُ / كَسْلانٌ – وذَاكَ مَكْسُولٌ – اَكْسَلْ – لَاتَكْسَلْ –مَكْسَلٌ2
Jadi arti kata (الْكَسَلُ) adalah kemalasan, dan pengangguran. I’rabnya adalah mubtada’, marfu’ dan tanda rofa’nya adalah dhommah zhohiroh.
Analisis Kata (مُضِرٌّ)
Kata (مُضِرٌّ) adalah bentuk isim fa’il dari kata (أضرَّ – يُضِرُّ) yang bermakna membahayakan, merugikan. Tashrif kata ini adalah
أضرَّ / أضرَّ بـ – يُضِرُّ – إِضْرَارًا ومُضَرًّا – فهو مُضِرّ – وَذَاكَ مُضَرّ – أضْرِرْ / أضِرَّ – لا تَضْرِرْ / لَاتَضِرَّ – مُضَرّ – مُضَرّ
Jadi arti kata (مُضِرٌّ) adalah sesuatu yang membahayakan. I’rabnya adalah khobarul mubtada’, marfu’ dan tanda rofa’nya adalah dhommah zhohiroh.
Kesimpulan Makna (الْكَسَلُ مُضِرٌّ)
Jadi makna lengkap (الْكَسَلُ مُضِرٌّ) adalah : Kemalasan itu sesuatu yang membahayakan
Penjelasan
Bekerja (العمل) berarti meninggalkan kemalasan (الكسل). Bekerja bermanfaat karena akan menjaga dirinya dari kefakiran dan dari kehinaan berupa meminta-minta atau yang lain. Orang yang malas adalah seperti orang yang mati walaupun ia tinggal ditengah-tengah orang hidup. Hal ini karena ia tidak bisa diharapka memberikan manfaat atau menolak kemudhorotan dari dirinya sendiri terlebih lagi orang lain.
Kemalasan adalah sesuatu yang sangat membahayakan bagi manusia. Kemalasan akan melemahkan diri untuk melakukan hal yang dibutuhkan untuk hidup dengan mulia. Kemalasan juga akan membahayakan anak-anak manusia karena akan menjadikan mereka para fakir. Kemalasan juga membahayakan negara tempat ia berintisab dengannya, karena kemakmuran sebuah bangsa tergantung dari amalan bermanfaat yang dilakukan oleh penduduknya.
Dalil al Qur’an
وَّجَعَلْنَا النَّهَارَ مَعَاشًاۚ
Kami menjadikan siang untuk mencari penghidupan. (an Naba’ : 11)
هُوَ الَّذِيْ جَعَلَ لَكُمُ الْاَرْضَ ذَلُوْلًا فَامْشُوْا فِيْ مَنَاكِبِهَا وَكُلُوْا مِنْ رِّزْقِهٖۗ وَاِلَيْهِ النُّشُوْرُ
Dialah yang menjadikan bumi untuk kamu dalam keadaan mudah dimanfaatkan. Maka, jelajahilah segala penjurunya dan makanlah sebagian dari rezeki-Nya. Hanya kepada-Nya kamu (kembali setelah) dibangkitkan. (al Mulk : 15)
فَاِذَا قُضِيَتِ الصَّلٰوةُ فَانْتَشِرُوْا فِى الْاَرْضِ وَابْتَغُوْا مِنْ فَضْلِ اللّٰهِ وَاذْكُرُوا اللّٰهَ كَثِيْرًا لَّعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنَ
Apabila salat (Jumat) telah dilaksanakan, bertebaranlah kamu di bumi, carilah karunia Allah, dan ingatlah Allah sebanyak-banyaknya agar kamu beruntung. (al Jumu’ah : 10)
Dalil as Sunnah
لَأن يَأخُذَ أحَدُكُم أحبُلًا، فيَأخُذَ حُزمةً مِن حَطَبٍ، فيَبيعَ، فيَكُفَّ اللهُ به وجهَه: خَيرٌ مِن أن يَسألَ النَّاسَ، أُعطيَ أم مُنِعَ.
“Sungguh, seseorang dari kalian mengambil tali-talinyanya lalu membawa seikat kayu bakar di atas punggungnya, kemudian ia menjualnya sehingga dengannya Allah menjaga wajahnya (kehormatannya), itu lebih baik baginya daripada ia meminta-minta kepada orang lain, baik mereka memberinya atau tidak memberinya.” (Bukhari, Shahih al Bukhari 2373)
Kisah Islam
عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ، أَنَّ رَجُلًا مِنَ الْأَنْصَارِ جَاءَ إِلَى النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم يَسْأَلُهُ،
Dari Anas bin Malik, ada seorang lelaki dari kaum anshor mendatangi nabi ﷺ kemudian meminta kepada beliau sesuatu
فَقَالَ: “لَكَ في بَيْتِكَ شَيْءٌ؟ ” قَالَ: بَلَى، حِلْسٌ نَلْبَسُ بَعْضَهُ وَنَبْسُطُ بَعْضَهُ، وَقَدَحٌ نَشْرَبُ فِيهِ الْمَاءَ، قَالَ: “ائْتِنِي بِهِمَا“، قَالَ: فَأَتَاهُ بِهِمَا،
Kemudian Rasulullah bersabda, apakah kamu memiliki sesuatu dirumah?, lelaki itu menjawab, ada ya Rasulullah. Saya memiliki kain, sebagian saya pakai dan sebagian untuk alas duduk. Saya juga memiliki wadah untuk minum air. Kemudian Rasulullah bersabda, “berikan saya keduanya”. Kemudian ia memberikan kain dan wadah minum kepada Rasulullah
فَأَخَذَهُمَا رَسُولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم بيَدِهِ، ثُمَّ قَالَ: “مَنْ يَشْتَرِي هَذَيْنِ؟ ” قَالَ رَجُلٌ: أَنَا آخُذُهُمَا بِدِرْهَمٍ، قَالَ: “مَنْ يَزِيدُ عَلَى دِرْهَمٍ؟ “، – مَرَّتَيْنِ أَوْ ثَلَاثًا – قَالَ رَجُلٌ: أَنَا آخُذُهُمَا بِدِرْهَمَيْنِ، فَأَعْطَاهُمَا إِيَّاهُ، وَأَخَذَ الدِّرْهَمَيْنِ فَأَعْطَاهُمَا الْأَنْصَارِيَّ،
Kemudian, Rasulullah ﷺ mengambil keduanya dan bersabda, siapa yang mau membeli dua barang ini?. Kemudian salah seorang lelaki manjawab, “saya akan membeli keduanya dengan dua dirham”. Kemudian Rasulullah ﷺ bersabda kembali, Siapa yang akan menambah harganya satu dirham lagi? Ini diucapkan dua atau tiga kali. Kemudian ada seorang lelaki berkata, Saya akan membeli keduanya dengan dua dirham. Kemudian Rasulullah memberikan keduanya kepada lelaki terakhir, kemudian mengambil dua dirham tersebut dan memberikannya kepada orang Anshar yang meminta kepada beliau tadi.
وَقَالَ: “اشْتَرِ بِأَحَدِهِمَا طَعَامًا فَانْبِذْهُ إِلَى أَهْلِكَ، وَاشْتَرِ بِالْآخَرِ قَدُومًا، فَأْتِنِي بِهِ“، فَفَعَلَ، فَأَخَذَهُ رَسُولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم، فَشَدَّ فِيهِ عُودًا بِيَدِهِ وَقَالَ: “اذْهَبْ فَاحْتَطِبْ وَلَا أَرَاكَ خَمْسَةَ عَشَرَ يَوْمًا“،
Kemudian Rasulullah ﷺ bersabda, Belilah dengan dua dirham ini makanan dan berikan kepada keluargamu, kemudian belilah kapak dengan uang sisanya. Kemudian lelaki itu melakukan hal itu. Kemudian Rasulullah mengambil kapak itu, mengikatkan tali padanya dengan tangan beliau dan bersabda, pergilah, cari kayu bakar dan jangan menemuiku selama 15 hari.
فَجَعَلَ يَحْتَطِبُ وَيَبِيعُ، فَجَاءَ وَقَدْ أَصَابَ عَشْرَةَ دَرَاهِمَ، فَقَالَ: “اشْتَرِ بِبَعْضِهَا طَعَامًا وَبِبَعْضِهَا ثَوْبًا“،
Kemudian lelaki itu mencari kayu bakar dan menjualnya, setelah itu datang menemui nabi ﷺ dan telah memiliki 15 dirham. Kemudian Rasulullah ﷺ bersabda, belilah sebagian makanan dan sebagian pakaian.
ثُمَّ قَالَ: “هَذَا خَيْرٌ لَكَ مِنْ أَنْ تَجيءَ وَالْمَسْأَلَةُ نُكْتَةٌ فِي وَجْهِكَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ،
Kemudian beliau bersabda, Ini lebih baik bagimu daripada anda datang dan meminta-minta sehingga ada noda hitam diwajahmu kelak pada hari kiamat (Sunan Ibnu Majah 2198, Sunan Abu Dawud 1641, di dho’ifkan Syaikh al Albani )
Soal-Soal Latihan Mandiri
Apa makna mahfuzhot (الْعَمَلُ نَافِعٌ) ?
Jelaskan asal kata dan tashrif dari kata (الْعَمَلُ)!
Jelaskan asal kata dan tashrif dari kata (نَافِعٌ)!
Jelaskan I’rab dan analisis nawhu dari kata (الْعَمَلُ نَافِعٌ)!
Apa makna mahfuzhot (الْكَسَلُ مُضِرٌّ) ?
Jelaskan asal kata dan tashrif dari kata (الْكَسَلُ)!
Jelaskan asal kata dan tashrif dari kata (مُضِرٌّ)!
Jelaskan I’rab dan analisis nawhu dari kata (الْكَسَلُ مُضِرٌّ)!
Apa lawan kata dari bekerja atau beramal?
Orang yang bekerja dan beramal akan bermanfaat untuk dirinya dan orang lain, jelaskan maknanya disertai 3 contohnya!
Mengapa orang yang malas disebut orang yang mati walaupun ia berada disekitar orang yang hidup?
Mengapa kemalasan itu membahayakan bagi diri, anak keturunan, dan bangsa?
Tuliskan dalil dari al Qur’an terkait dengan mahfuzhot (الْعَمَلُ نَافِعٌ – الْكَسَلُ مُضِرٌّ)!
Tuliskan dalil dari as Sunnah yang shahih terkait dengan mahfuzhot (الْعَمَلُ نَافِعٌ – الْكَسَلُ مُضِرٌّ)!
Tuliskan satu kisah islam yang menginspirasimu untuk mengamalkan mahfuzhat (الْعَمَلُ نَافِعٌ – الْكَسَلُ مُضِرٌّ)
