landscape, roman bridge, nature, river, vegetation, darling, clouds, rocks, cloudy, stone

Daftar Isi

Mengapa Takhoshshush KurmaQu al Malanji?

Sebelum kita melangkah membentuk sebuah sistem, kita perlu melihat berbagai sudut pandang kelemahan sistem yang ada kemudian memunculkan sistem baru sebagai solusi. Semua hal baik dalam sistem lama kita teruskan dan semua yang buruk kita rubah. Nah pertama mari kita lihat berbagai kelemahan alumni SMA atau SMK selama 10 tahun terakhir dari data-data resmi baik nasional dan internasional. Tujuan dari penjelasan ini bukanlah menjelekkan semua alumni SMA dan SMK tapi menyadari titik-titik kelemahan yang ada dan menjadi solusi dari kelemahan itu sehingga tujuan menjadi sekolah yang bermanfaat bagi kaum muslimin tercapai.

Kelemahan Alumni SMA dan SMK di Di Indonesia

Jika kita simpulkan ada 5 titik kelemahan alumni SMA dan SMK di indonesia pada umumnya, yaitu:

1. sulit terserap kerja,

2. skill mismatch dengan kebutuhan industri,

3. lemahnya literasi–numerasi dasar,

4. lemahnya soft skills/kesiapan kerja,

5. transisi sekolah-ke-kerja yang kurang mulus.

Bukti-bukti Kesimpulan Data

1) Statistik resmi Indonesia: pasar kerja alumni SMA/SMK

a) Pengangguran lulusan menengah atas tetap tinggi, dan SMK sering menjadi yang tertinggi.

BPS menunjukkan bahwa pada 2025 Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) lulusan SMA umum 6,88% dan SMK 8,63%. Ini menandakan lulusan SMK—yang seharusnya lebih siap kerja—masih justru menghadapi pengangguran lebih tinggi daripada SMA umum. (Badan Pusat Statistik, 2015)

b) Pada awal periode 10 tahun ini, masalah yang sama sudah tampak.

Rilis resmi BPS nasional pada Februari 2015 mencatat TPT nasional 5,81%. Di sisi lain, studi tahun 2020 yang mengutip data BPS menyebut pada Februari 2017 pengangguran lulusan SMK 9,27% dan SMA 7,03%. Artinya, problem transisi kerja lulusan menengah atas, khususnya SMK, sudah berlangsung bertahun-tahun, bukan fenomena sesaat. (Badan Pusat Statistik, 2025)

c) Saat krisis pandemi, kelompok SMA/SMK tetap paling rentan.

Rilis resmi BPS pada Agustus 2020 menyebut TPT tertinggi berada pada kelompok pendidikan SMA/SMK sebesar 9,01%. Jadi ketika ekonomi terguncang, lulusan menengah atas menjadi kelompok yang paling mudah terdampak. (Badan Pusat Statistik Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, 2020)

d) Dalam angka absolut, jumlah penganggur lulusan SMA/SMK juga besar.

Tabel BPS “Unemployment by Educational Attainment, 1986–2024” menunjukkan pada 2024 terdapat 687.929 penganggur lulusan SMA umum dan 385.943 penganggur lulusan SMK. Angka absolut ini tidak boleh dibaca sendirian tanpa melihat ukuran populasi masing-masing, tetapi tetap menunjukkan besarnya tekanan pada pasar kerja lulusan menengah atas. (Badan Pusat Statistik., 2024)

e) Masalahnya bukan hanya “menganggur”, tetapi juga “menganggur sambil tidak sekolah dan tidak ikut pelatihan”.

BPS mencatat Youth NEET Indonesia usia 15–24 tahun pada Agustus 2024 sebesar 20,31%, sekitar 9 juta dari 44 juta pemuda. Ini penting karena banyak lulusan SMA/SMK yang tidak langsung lanjut kuliah, tetapi juga belum bekerja dan belum ikut pelatihan, sehingga skill mereka berisiko stagnan. (Badan Pusat Statistik Kabupaten Pati, 2025)

2) Statistik resmi luar negeri: kualitas kompetensi dasar lulusan usia sekolah menengah

a) Kemampuan dasar siswa Indonesia masih rendah secara internasional.

OECD pada PISA 2022 menyatakan hasil Indonesia turun dibanding 2018 untuk matematika, membaca, dan sains, dan hasil 2022 termasuk yang paling rendah sepanjang pengukuran PISA Indonesia. OECD juga mencatat hanya 18% siswa Indonesia yang mencapai minimal Level 2 matematika, jauh di bawah rata-rata OECD 69%. (Organisation for Economic Co-operation and Development, 2023)

b) Pada PISA 2018, mayoritas siswa Indonesia belum mencapai literasi dasar.

Laporan World Bank The Promise of Education in Indonesia menyebut 70% anak Indonesia tidak dapat menunjukkan literasi dasar pada PISA 2018. Jadi sebelum mereka lulus SMA/SMK pun, banyak yang sudah masuk jenjang menengah atas dengan fondasi literasi yang lemah. (World Bank, 2020)

c) Kelemahan kompetensi dasar berdampak langsung pada peluang kerja.

Analisis World Bank berbasis IFLS 2014 menyebut pekerja dengan kemampuan kognitif dan matematika 1 standar deviasi lebih rendah memiliki kemungkinan 5,8% lebih kecil untuk memperoleh pekerjaan penuh. Ini menunjukkan bahwa masalah literasi-numerasi bukan hanya masalah akademik, tetapi juga masalah ketenagakerjaan. (World Bank, 2018)

3) Data semi-resmi / lembaga internasional / swasta yang relevan

a) Ada jurang persepsi besar antara sekolah/pelatihan dan dunia kerja.

Studi ADB tentang pengembangan keterampilan untuk Industry 4.0 di Indonesia menemukan 96% lembaga pelatihan merasa lulusannya sudah siap kerja, tetapi hanya 33% pemberi kerja di industri makanan-minuman dan 30% di industri otomotif yang setuju. Ini salah satu bukti paling jelas bahwa ada mismatch antara output pendidikan dan ekspektasi industri. (Asian Development Bank, 2021)

b) Kebutuhan digital skill makin kuat.

ADB–LinkedIn melaporkan para pemberi kerja menuntut setidaknya 8 dari 10 kandidat yang direkrut dalam setahun terakhir memiliki keterampilan digital dasar, dan 4 dari 10 perekrutan bahkan membutuhkan keterampilan digital tingkat menengah atau lanjutan. Bagi lulusan SMA/SMK, ini berarti kelemahan digital skill akan makin cepat menjadi penghambat kerja. (Asian Development Bank, 2021)

Analisis Penyebab

1. Fondasi literasi dan numerasi lemah

Kalau fondasi dasar lemah, lulusan sulit belajar hal baru, sulit memahami SOP, sulit membaca data, dan sulit beradaptasi lintas pekerjaan. OECD menunjukkan rendahnya capaian PISA 2022, World Bank menegaskan 70% anak belum mencapai literasi dasar pada PISA 2018, dan analisis IFLS menunjukkan skill kognitif yang lebih rendah terkait peluang kerja penuh yang lebih kecil. Jadi, akar masalahnya sering dimulai jauh sebelum lulus. (Organisation for Economic Co-operation and Development, 2023).

2. Skill mismatch: yang diajarkan tidak selalu sama dengan yang dibutuhkan industri

ADB menemukan gap persepsi yang ekstrem antara lembaga pendidikan dan employer. OECD juga mencatat Indonesia mendorong apprenticeship untuk mengatasi skill mismatch dan memperbaiki transisi sekolah-ke-kerja. Artinya, mismatch ini diakui sebagai persoalan struktural, bukan sekadar keluhan individual. (Asian Development Bank, 2021)

3. Soft skills dan sikap kerja belum cukup kuat

Jurnal di International Journal of Instruction merangkum FGD BSNP 2016: kompetensi yang dibutuhkan industri mencakup pengetahuan dasar, technical skills, dan positive work attitudes, dan di antara ketiganya sikap kerja positif disebut paling penting. Ini cocok dengan realitas bahwa perusahaan sering masih bisa melatih teknis, tetapi kesulitan jika lulusan lemah pada disiplin, komunikasi, tanggung jawab, problem solving, dan kematangan kerja. (Suryadi, A., et al, 2020)

4. Career guidance di sekolah belum optimal

Masih dari jurnal yang sama, survei pekerja muda Indonesia menunjukkan di wilayah Indonesia Timur 88% responden tidak menerima career guidance, padahal mereka merasa itu akan berguna untuk mencari kerja. Ini penting karena banyak lulusan SMA/SMK tidak gagal karena “bodoh”, tetapi karena salah pilih jurusan, tidak paham pasar kerja, tidak paham jalur sertifikasi, atau tidak tahu cara masuk pekerjaan yang relevan. (Suryadi, A., et al, 2020)

5. Keterampilan SMK cepat usang bila tidak terus diperbarui

Jurnal Bappenas tentang Labor Market Outcomes of Vocational High Schools menyimpulkan bahwa keunggulan awal SMK bisa menurun seiring umur jika keterampilan spesifik yang diajarkan tidak diperbarui. Pada usia muda, SMK bisa unggul untuk masuk kerja cepat; tetapi dalam jangka panjang, lulusan SMA bisa lebih mudah meng-upgrade skill sehingga selisih itu mengecil, bahkan berbalik. Ini sangat penting: masalah SMK bukan hanya penyerapan awal, tetapi juga daya tahan kompetensi. (Astuti, P, 2022)

Kesimpulan Global

Jika diringkas kembali, data 10 tahun terakhir menunjukkan:

  • Kelemahan utama alumni SMA/SMK di Indonesia bukan sekadar “kurang ijazah”, tetapi kombinasi empat hal: fondasi belajar lemah, mismatch dengan kebutuhan kerja, soft skills yang belum matang, dan transisi sekolah-ke-kerja yang tidak terarah. (Organisation for Economic Co-operation and Development, 2023)
  • SMK paling terdampak dalam indikator pengangguran, padahal secara ideal seharusnya paling siap kerja. Ini menunjukkan ada masalah sistemik pada relevansi kurikulum, kualitas praktik industri, pembaruan kompetensi, dan penyaluran lulusan. (Badan Pusat Statistik., 2025)
  • SMA punya kelemahan berbeda: fondasi akademik tidak selalu cukup kuat untuk kuliah, tetapi juga sering belum dibekali kecakapan kerja praktis dan career guidance yang matang. Ini membuat sebagian lulusan “menggantung” di zona NEET. (Badan Pusat Statistik Kabupaten Pati, 2025)
  • Lalu bagaimana TAKHASHSHUSH KURMAQU AL MALANJI diharapkan menjadi solusi bagi permasalahan-permasalahan ini?, ikuti pembahasan berikutnya.
  • Untuk saat ini, kami hanya menerima murid takhoshshush dari alumni SMPTA Imam Syafi’i saja karena SMPTAIS adalah dasar dan pondasi awal dari Takhashshush.

Daftar Pustaka

Sumber Statistik Nasional (Indonesia)

Badan Pusat Statistik. (2015, Mei 5). Februari 2015: Tingkat pengangguran terbuka (TPT) sebesar 5,81 persen.
https://www.bps.go.id/id/pressrelease/2015/05/05/1139/februari-2015–tingkat-pengangguran-terbuka–tpt–sebesar-5-81-persen.html

Badan Pusat Statistik. (2024). Unemployment by educational attainment, 1986–2024.
https://www.bps.go.id/en/statistics-table/1/OTcyIzE%3D/unemployment-by-educational-attaintment–1986—2024.html

Badan Pusat Statistik. (2025). Tingkat pengangguran terbuka berdasarkan tingkat pendidikan.
https://www.bps.go.id/id/statistics-table/2/MTE3OSMy/tingkat-pengangguran-terbuka-berdasarkan-tingkat-pendidikan.html

Badan Pusat Statistik Kabupaten Pati. (2025, Februari 25). Samakah NEET dengan pengangguran?
https://patikab.bps.go.id/id/news/2025/02/25/1061/samakah-neet-dengan-pengangguran-.html

Badan Pusat Statistik Provinsi Kepulauan Bangka Belitung. (2020, November 5). August 2020: Open unemployment rate (TPT) 5.25 percent.
https://babel.bps.go.id/en/pressrelease/2020/11/05/742/august-2020–open-unemployment-rate-5-25-persen.html

Sumber Internasional (Kompetensi & Pendidikan)

Organisation for Economic Co-operation and Development. (2023). PISA 2022 results (Volume I & II): Country note – Indonesia.
https://www.oecd.org/en/publications/pisa-2022-results-volume-i-and-ii-country-notes_ed6fbcc5-en/indonesia_c2e1ae0e-en.html

World Bank. (2020). The promise of education in Indonesia. World Bank Group.
https://www.worldbank.org/en/country/indonesia/publication/the-promise-of-education-in-indonesia

World Bank. (2018). Skills and the labor market in Indonesia: Trends and implications (based on IFLS data). World Bank Group.
https://openknowledge.worldbank.org/bitstreams/dbeeabb8-dc54-4700-a774-ab9ff38e241e/download

Sumber Industri & Keterampilan

Asian Development Bank. (2021). Reaping the benefits of industry 4.0 through skills development in Indonesia.
https://www.adb.org/sites/default/files/publication/671876/benefits-industry-skills-development-indonesia.pdf

Asian Development Bank. (2021). Digital skills critical for jobs in Asia and the Pacific.
https://www.adb.org/news/digital-skills-critical-jobs-asia-and-pacific-says-adb-linkedin-report

Jurnal Ilmiah

Ariansyah, K., et al. (2024). Labor market outcomes of vocational high school graduates in Indonesia.
Empirical Research in Vocational Education and Training.
https://ervet-journal.springeropen.com/articles/10.1186/s40461-024-00160-6

Astuti, P. (2022). Returns to vocational education in Indonesia.
Journal of Indonesian Sustainable Development Planning (JISDeP).
https://journal.pusbindiklatren.bappenas.go.id/lib/jisdep/article/download/328/145

Suryadi, A., et al. (2020). Soft skills, employability, and career guidance in Indonesia.
International Journal of Instruction.
https://files.eric.ed.gov/fulltext/EJ1249063.pdf

Scroll to Top