Daftar Isi
ToggleEkonomi Sirkular Di Sekolah KurmaQu
Apa itu ekonomi sirkular?
Kircherr et.al (Kircherr et.al, 2017, p. 226) meneliti tentang 114 definisi ekonomi sirkular dan menjelaskan tentang prinsip dasar ekonomi sirkular adalah konsep 4R (reduction, reuse, recycling dan recovery). Namun pada kenyataannya, definisi ekonomi sirkular lebih banyak mengarah pada 3R (reduction, reuse, recycling). Konsep ini diterapkan sejak proses produksi, sirkulasi produk, dan konsumsi. [1] Nurrilazia et.al (Nurralazia, et.al, 2022, p. 75) menjelaskan maksud reduce dalam 4R adalah mengurangi atau menghemat pemakaian barang yang nantinya akan menambah volume sampah. Contoh sederhana adalah ketika belanja kita membawa kantong sendiri di rumah yang bisa digunakan kembali. Sedangkan, reuse dalam 4R maknanya adalah memakai kembali barang sehingga meminimalkan barang yang akan dibuang ke sampah karena masih bisa digunakan ulang. Contohnya adalah memanfaatkan gelas plastik sebagai pot. Kemudian makna recycle dalam 4R adalah bagaimana barang bisa didaur ulang menjadi bentuk lain yang bisa digunakan kembali. Contohnya adalah sampah organik yang didaur ulang menjadi kompos. Pengumpulan sampah plastik agar bisa didaur ulang oleh produsen melalui bank sampah. [2] Sedangkan Oliveira et.al (Oliveira et.al. 2019) menjelaskan bahwa proses recovery dalam 4R adalah sebuah proses mengekstraksi energi atau material dari sampah agar bisa digunakan kembali. Contohnya adalah sampah di konversi menjadi energi menggunakan panas, dan sampah organik bisa dikonversi menjadi energi dan kompos. [3]
Kircherr et.al (Kircherr et.al, 2017, p. 227) juga menjelaskan adanya hirarki pemikiran dalam ekonomi sirkular. Prioritas pemikiran pertama adalah reduce, yaitu mengurangi produksi dan konsumsi yang dapat mencemari lingkungan. Hirarki kedua adalah reuse atau repair, jika kita harus menggunakan barang yang nantinya akan mencemari lingkungan maka usahakan penggunaannya selama mungkin dengan cara kita gunakan kembali atau jika rusak kita perbaiki dulu untuk digunakan kembali. Jika reuse atau repair memang tidak bisa dilakukan maka kita lakukan recycle yaitu merubah jadi bentuk lain sehingga bisa digunakan lagi. Jika recycle tidak bisa dilakukan maka kita gunakan tahap terakhir yaitu recovery, yaitu mengekstraksi barang yang dibuang dan memisahkannya dengan barang yang bisa kita gunakan lagi dan yang memang harus kita buang. Dan terakhir adalah barang yang memang tidak bisa kita gunakan maka dibuang di tempat pembuangan akhir. [1]
Apa tujuan ekonomi sirkular?
Tujuan pelaksanaan ekonomi sirkular menurut (Kircherr et.al, 2017, p. 227-228) seharusnya memenuhi 3 dimensi holistik yaitu, memperbaiki kualitas lingkungan, pertumbuhan ekonomi yang baik, prinsip keadilan pada masyarakat dan ditambah satu tujuan yang lebih memotivasi adalah melakukan tindakan yang bermanfaat bagi generasi mendatang. [1]
Apa itu Integrated Farming System (IFS)?
Bhuiya, et.al (Bhuiya, 2014) menjelaskan bahwa IFS adalah konsep pertanian yang melibatkan dua atau lebih unit usaha yang memiliki hubungan saling keterkaitan dalam hal produksi, konsumsi dan pemanfaatan sumber daya [4]. Singh, et.al (Singh, 2024) menjelaskan maksud IFS adalah pendekatan terpadu menuju pertanian berkelanjutan yang menggabungkan berbagai usaha pertanian seperti tanaman pangan, ternak, unggas, dan perikanan dalam satu sistem pertanian. Manfaat bagi petani skala kecil meningkatkan keuntungan sistem pertanian dengan cara meningkatkan produktivitas per unit luas lahan. [5]
Apa hubungan antara IFS dan Circullar Economy (CE)?
Kotyal, K (Kotyal, K. 2023) menjelaskan bahwa IFS atau pertanian sirkular terinspirasi oleh prinsip-prinsip ekonomi sirkular. Diantara prinsip ekonomi sirkular yang diterapkan IFS adalah menekankan pada pengurangan limbah, siklus sumber daya tertutu[, dan pemanfaatan sumber daya secara berkelanjutan dalam sistem pertanian. Perbedaan IFS (pertanian berkelanjutan) dengan pertanian linier tradisional adalahpemanfaatan dan daur ulang sumber daya secara efisien dalam sistem pertanian untuk mengurangi dampak lingkungan dan menjaga kesehatan ekosistem. IFS juga merupakan praktik pertanian tanpa limbah yaitu bagaimana praktik pertanian berkelanjutan, seperti pengomposan, rotasi tanaman, agroforestri, dan pengendalian hama terpadu, berkontribusi pada sistem tanpa limbah dalam pertanian sirkular. Sederhananya, IFS adalah salah satu penerapan CE dalam bidang pertanian. [6]
Apa itu Urban Farming?
Yuliana, A. I., et al. (Yuliana, et al, 2024) menjelaskan bahwa urban farming artinya adalah pertanian perkotaan yaitu kegiatan bertani atau bercocok tanam yang dilakukan pada lingkungan perkotaan yang memiliki cirikhas lahan sempit. [7] Sedangkan Triwahyuni, et al. (Triwahyuni, et al, 2024) menjelaskan urban farming adalah kegiatan pengembangan pertanian yang dilakukan di wilayah perkotaan dengan tujuan menghasilkan pertanian lokal, memanfaatkan lahan yang terbatas, dan meningkatkan kemandirian pangan. [8] Urban farming ada karena untuk mengatasi masalah diantaranya berkurangnya lahan pertanian, meningkatnya kebutuhan pangan, dan masalah lingkungan perkotaan yang semakin kurang lahan hijau. Metode urban farming yang banyak dilakukan antara lain hidroponik, vertikultur, aquaponik, dan microgreen. (Lukmanul, A, 2021) [9]
Apa Manfaat Urban Farming (UF)?
Urban farming menjadi solusi untuk menghasilkan bahan pangan secara mandiri dengan memanfaatkan keterbatasan lahan di lingkungan kota. (Yuliana, et al, 2024) [7] Selain itu manfaat urban farming diantaranya adalah mengurangi polusi dan limbah, sebagai peluang usaha skala rumah tangga dan meningkatkan partisipasi masyarakat untuk melestarikan lingkungan. (Yunita, R., et al, 2023) [10]
Apa maksud Teknologi Tepat Guna (TTG)?
TTG atau Teknologi Tepat Guna adalah teknologi yang sederhana, berbiaya rendah, mudah diterapkan masyarakat, dan sesuai kebutuhan. Contoh TTG dalam pertanian adalah sistem irigasi tetes sederhana, alat penyiraman otomatis, dan komposter rumah tangga. (Yuliana, A. I., et al, 2024) [7]
Penggabungan TTG dan UF
Implementasi TTG pada UF terbukti meningkatkan efisiensi dan produktivitas urban farming serta memanfaatkan sumber daya secara optimal. (Yuliana, A. I., et al, 2024) [7] Penggabungan ini menghasilkan sistem pertanian yang efisien dalam penggunaan air dan energi, ramah bagi lingkungan, serta mudah direplikasi. Contoh integrasi TTG dan UF adalah sistem hidroponik dengan pompa otomatis, IoT sederhana untuk monitoring tanaman, dan penggunaan limbah organik sebagai pupuk
Integrasi TTG dan UF Sebagai Penerapan EC dan IFS di Sekolah KurmaQu Hingga 2026
Sekolah tahfidz KurmaQu memberikan bekal karakter dan pembiasaan life skill EC dan IFS sejak anak-anak berusia dini. EC dan IFS dibiasakan dan diajarkan dalam pelajaran TTG (Teknologi Tepat Guna) yang berusaha mengajarkan kepada para siswa prinsip reuse, dan recycle dengan menggunakan bahan-bahan yang orang lain memandangnya sebagai sampah yang harus dibuang. Selain berusaha melestarikan lingkungan, TTG diharapkan juga menjadi ketahanan ekonomi bagi para siswa ketika berusia dewasa kelak. Pelajaran lain untuk menerapkan EC dan IFS adalah Urban Farming. Pada urban farming, para siswa diajarkan prinsip bertani skala rumah tangga dengan sistem IFS. UF diharapkan menjadi ketahanan pangan bagi para siswa kelak ketika berusia dewasa.
Daftar Pustaka
[1] Kirchherr, J., Reike, D., & Hekkert, M. (2017). Conceptualizing the circular economy: An analysis of 114 definitions. Resources, Conservation and Recycling, 127, 221–232. https://doi.org/10.1016/j.resconrec.2017.09.005
[2] Nurrizalia, M., Husin, A., Waty, E. R. K., Nengsih, Y. K., & Palembang-Prabumulih, J. R. (2022). Mengelola Sampah Rumah Tangga dengan Pedoman Buku Saku 4R (Reduse, Reuse, Recycle, Replant) di Desa Limbang Jaya Ii Ogan Ilir. Journal of Sriwijaya Community Service on Education (JSCSE), 1(2), 67-77.
[3] Oliveira, K. E. D. S., & da Cal Seixas, S. R. (2019). Waste diversion and sustainability. In Encyclopedia of sustainability in higher education (pp. 2007-2013). Cham: Springer International Publishing.
[4] Bhuiya, M. S. U., Karim, M. M., & Hossain, S. M. A. (2014). Study on integrated farming systems model development. Journal of the Bangladesh Agricultural University, 12(2), 325-336.
[5] Singh, J., Singh, B., Singh, A. K., & Rani, P. (2024). Integrated Farming System: A Sustainable Approach towards Modern Agriculture. International Journal of Plant and Soil Science, 36(9), 641-649.
[6] Kotyal, K. (2023). Circular agriculture: Sustainable farming practices for zero waste. Environmental Reports, 5(1).
[7] Yuliana, A. I., et al. (2024). Implementasi teknologi tepat guna alat penyiraman otomatis sebagai penunjang ketahanan pangan keluarga berbasis pertanian urban. Jurnal Abdimas IF. https://doi.org/10.32764/abdimasif.v5i1.4142
[8] Triwahyuni, D. A., et al. (2024). Benefits of urban farming programs in urban areas. Jurnal Pengembangan Penyuluhan Pertanian. https://doi.org/10.36626/jppp.v22i1.1372
[9] Lukmanul, A. (2021). Urban farming metode teknologi dan inovasi baru pada pertanian perkotaan. SSRN. https://doi.org/10.2139/ssrn.3782290
[10] Yunita, R., et al. (2023). Pengenalan teknologi urban farming dengan metode budidaya microgreen. Jurnal Hilirisasi IPTEKS. https://doi.org/10.25077/jhi.v6i3.692








