mountains, landscape, morning, volcano, java, indonesia, nature, sunrise, morning, volcano, indonesia, indonesia, indonesia, indonesia, indonesia

Apa Itu Ilmu Psikologi?



Pendahuluan

Halo sahabat, kemarin malam saya menjalani kuliah matrikulasi S2 Psikologi di IOU (International Open University). Materi kemarin adalah membahas tentang Social Psychology, dan diajarkan oleh dosen kami yang bernama DR. Zein Permana, S.Psi, M.Psi. Saat itu beliau membahas tentang pengenalan psikologi sosial dan hubungan antar manusia. Setelah menyimak materinya secara langsung membahas beberapa hal baru dan menarik, saya terdorong menggali lebih dalam materi yang beliau bahas kemudian menuliskannya di website ini. Semoga bisa memberi manfaat untuk para sahabat setia pembaca website ini.

Apa itu psikologi?

Kang Zein membahas pertama kali adalah tentang apa yang dimaksud dengan psikologi, ada yang unik ketika membahas lambang ilmu psikologi. Lambang ilmu psikologi adalah sebagaimana gambar 1. Beliau mengatakan bahwa ini adalah lambang psi dalam angka yunani yang berasal dari kata psyche. Psychology merupakan gabungan dari dua kata psyche dan logos. Psyche artinya adalah jiwa, sedangkan logos artinya adalah ilmu. Jadi psikologi bisa disebut dengan ilmu jiwa. Kang Zein menyebutkan makna psikolig secara ringkas adalah The study of mind and the science of the behaviour (Ilmu yang mempelajari tentang proses mental dan perilaku manusia)

Kemudian karena tertarik menggali lebih dalam, apa yang beliau sampaikan, saya menggali lebih dalam melalui jurnal-jurnal yang banyak tersebar.

Nina Ariyani Martini (Martini, 2014, p 1.3) menjelaskan pada awalnya psikologi adalah ilmu yang mempelajari tentang jiwa manusia. Namun jiwa adalah sesuatu yang abstrak dan tidak bisa diukur sedangkan syarat keilmuan (Ricki: pada umumnya menurut yunani saat itu) adalah bisa diukur dengan obyektif dan bisa dibuktikan dengan nyata. Inilah sebabnya istilah psikologi bergeser menjadi ilmu yang mempelajari jiwa yang telah ada dalam tubuh sesorang sehingga melatar belakangi munculnya tingkah laku manusia. Dengan mempelajari tingkah laku manusia, kita akan mengetahui keadaan kejiwaan manusia. Kesimpulan dari pengertian psikologi adalah psikologi merupakan sebuah ilmu pengetahuan, dan yang kedua psikologi mempelajari tingkah laku manusia.

Psikologi sebagai ilmu pengetahuan berarti seorang ahli psikologi harus menggunakan metode ilmiah seperti observasi, eksperimen dan metode lainnya untuk menemukan jawaban atas pertanyaan yang timbul atau menyimpulkan suatu teori. Psikologi juga sebagai ilmu terapan, yang artinya ilmu psikologi bisa diterapkan untuk menyelesaikan masalah-masalah nyata yang dihadapi. Contoh, psikologi perkembangan bisa digunakan untuk mengatasi masalah pubertas, psikologi pendidikan bisa digunakan untuk menyelesaikan masalah-masalah yang terjadi diruang kelas. Penerapan ilmu psikologi ini adalah seni yang membutuhkan pengalaman dan latihan. (Martini, 2014, p 1.4-1.5) [1]

Psikologi adalah ilmu yang mempelajari tingkah laku manusia, baik itu tingkah laku normal maupun tidak normal, atau semua tingkah laku manusia. Tngkah laku manusia ada yang bisa diamati secara langsung dan disebut dengan “overt behaviour”, contohnya tertawa, tersenyum, membaca buku dll. Ada juga tingkah laku yang tidak bisa diukur dan diamati langsung namun bisa diukur dari apa yang dikatakan seseorang dan apa reaksi seseorang terhadap seseuatu, ini disebut dengan “covert behaviour” contohnya berpikir, melamun, mengingat dll. (Martini, 2014, p 1.5) [1]

Apa hubungan tingkah laku hewan dan tingkah laku manusia?

Memang benar ada para ahli yang meneliti tingkah laku hewan untuk menemukan teori pada manusia. Mereka berpendapat bahwa tingkah laku hewan ada kesamaannya dengan tingkah laku manusia. Bereksperimen dengan hewan lebih mudah daripada bereksperimen dengan manusia. Namun, metode menyamakan tingkah laku manusia dan hewan, mendapatkan kritikan tajam dari para ahli psikologi yang lain. (Martini, 2014, p 1.5) [1]

Adapun saya (Penulis: Ricki), mengikuti pendapat bahwa manusia tidak bisa disamakan dengan hewan dalam tingkah laku. Konsep ilmu psikologi terbaik adalah konsep ilmu psikologi atau kejiwaan yang disana para ulama islam telah menjelaskan secara detail bersumber dari al Qur’an dan as Sunnah. Konsep keilmuan ini memang sedikit berbeda, dimana konsep keilmuan memulai dari eksperimen baru dimunculkan teori, sedangkah dalam islam, menggali sumber primer al Qur’an dan as Sunnah terlebih dahulu, kemudian memunculkan teori, baru bereksperimen untuk menguatkan. Wallahua’lam.

Kesimpulan saya sederhana, tidak ada yang lebih memahami kejiwaan manusia dan tingkah laku yang dilahirkan dari kejiwaan itu melainkan pembuatnya, yaitu Allah. Ini telah diinformasikan dalam al Qur’an. Kemudian tidak ada yang paling memahami al Qur’an kecuali nabi kita Muhammad yang ini bisa difahami dari hadits nabi, dan terakhir tidak ada yang paling memahami al Qur’an dan al Hadits kecuali para ulama yang dimulai dari sahabat Rasulullah kemudian 3 generasi awal dan generasi yang laing yang mengikuti para sahabat dalam memahami kedua sumber itu.

Kalau kita menggali lebih dalam, ilmu psikologi lahir dimulai dari filsafat yunani, yaitu Plato (427 – 347 SM) dan Aristoteles (384 – 322 SM) kemudian masih masuk dalam ilmu filsafat ketika zaman abad 17 sampai 18 dengan pakarnya Rene Descrates dan John Locke menggagas adanya dualisme antara jiwa dan raga atau jasmani. Mereka juga menggagas bahwa manusia lahir tanpa pengetahuan bawaan dan belajar dari pengalaman. Sedangkah secara ilmiah menurut ilmu pengetahuan modern, baru dimunculkan oleh Wilhelm Wundt pada tahun 1879 yang mendirikan laboratorium psikologi pertama di Leipzig, Jerman. Ia menggunakan metode introspeksi untuk mempelajari kesadaran. Wilhelm Wundt ini yang disebut umumnya sebagai bapak psikologi modern (Hafidz, 2025, p. 22) [2]. Nah dari tinjauan sejarah ini, sebenarnya ilmu psikologi telah ada jauh sebelum zaman sebelum Nabi Muhammad dan terus ada hingga nabi kita hidup bahkan dizaman para ulama islam. Kita juga memahami bahwa diantara tugas nabi kita adalah mengobati kejiwaan manusia sebagaimana firman Allah,

هُوَ ٱلَّذِي بَعَثَ فِي ٱلۡأُمِّيِّـۧنَ رَسُولٗا مِّنۡهُمۡ يَتۡلُواْ عَلَيۡهِمۡ ءَايَٰتِهِۦ وَيُزَكِّيهِمۡ وَيُعَلِّمُهُمُ ٱلۡكِتَٰبَ وَٱلۡحِكۡمَةَ وَإِن كَانُواْ مِن قَبۡلُ لَفِي ضَلَٰلٖ مُّبِينٖ
Dialah yang mengutus seorang Rasul (Nabi Muhammad) kepada kaum yang buta huruf dari (kalangan) mereka sendiri, yang membacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya, menyucikan (jiwa) mereka, serta mengajarkan kepada mereka Kitab (Al-Qur’an) dan Hikmah (sunah), meskipun sebelumnya mereka benar-benar dalam kesesatan yang nyata.

[al Jumu’ah : 2]

Dizaman nabi, tidak pernah disebutkan sumber referensi dari Plato, dan Aristoteles atau para penerus mereka berdua untuk panduan memperbaiki kejiwaan para sahabat Rasulullah dan umat islam saat itu. Kemudian dizaman para ulama islam, sumber penggalian ilmu masih tetap fokus pada menggali informasi dari al Qur’an dan as Sunnah, sedangkan sumber lain hanyalah digunakan jika menguatkan sumber penggalian informasi yang utama. Jadi inilah yang menjadi prinsip saya, (penulis: Ricki Abu Ahmad) sampai saat ini.

Semoga Allah senantiasa menjaga kelurusan dan keistiqomahan kami sampai Allah mewafatkan kami dalam keadaan husnul khotimah. Betapa banyak orang yang awalnya lurus, namun akhirnya menjadi tidak istiqomah bahkan tersesat pada akhirnya. Allahlah yang memberi petunjuk dan menyesatkan jalan seseorang sesuai hikmahNya. Semoga Allah melindungi kita dari jalan yang bengkok dan jauh dari rahmat Allah.

Selesai ditulis di rumah ibu, Joyoraharjo IXB, nomor 15, Merjosari, Lowokwaru, Malang pada hari Kamis, 14 Syawal 1447 (02 April 2026), pukul 3:18.

Ditulis oleh: al Faqir ila ‘afwi Robbihi Abu Ahmad Ricki al Malanjiy (Mahasiswa S2 Psikologi IOU)

Daftar Pustaka

[1] Martini, N. A., & Lib, M. (2014). Psikologi: Definisi, Sejarah, dan Metode. Jurusan Psikologi, 1-30.

[2] Hafidz, Y. F., Husna, I. Z., Khumaeroh, N., Juliansyah, M. R., & Kholisoh, S. N. (2025). Jurnal Psikologi Umum: Definisi, Sejarah dan Ruang Lingkup Psikologi. Jurnal Transformasi Pendidikan Berkelanjutan, 6(3).

 

Scroll to Top